Satgas Karhutla Kalteng Intensifkan Pemadaman Terpadu melalui Operasi Darat dan Udara
yl
Hai Kalteng - Palangka Raya - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Kalimantan Tengah terus mengintensifkan operasi pemadaman secara terpadu melalui strategi darat dan udara. Penanganan diprioritaskan pada titik-titik api aktif, terutama di kawasan lahan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi dan membutuhkan penanganan secara berlapis.
Posko Komando Penanganan Darurat Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah memusatkan dukungan operasional pada sejumlah titik kejadian dengan mengoptimalkan sinergi seluruh unsur pemadam di lapangan. Operasi tidak hanya diarahkan untuk memadamkan api, tetapi juga dilanjutkan dengan proses pendinginan dan pembasahan guna mencegah munculnya kembali titik api.
(Baca Juga : Gubernur Kalteng Agustiar Sabran Pimpin Rapat Evaluasi Penanganan Karhutla Kalteng)
Dalam operasi udara, sebanyak enam unit helikopter water bombing dikerahkan untuk melakukan pengeboman air secara berkelanjutan. Armada tersebut terutama difokuskan pada kawasan gambut dalam yang sulit dijangkau oleh personel maupun peralatan pemadam di darat. Selain itu, satu unit pesawat digunakan untuk kegiatan patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pesawat C208B EX/PKFPU telah melaksanakan penyemaian bahan semai berupa NaCl dengan total 1.000 kilogram di wilayah Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Barito Timur, pada ketinggian penerbangan sekitar 10.000 hingga 12.000 kaki.
Pesawat patroli juga dimanfaatkan untuk melakukan pemantauan dan analisis terhadap sebaran asap serta kondisi lapangan. Data hasil pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung penentuan strategi dan efektivitas operasi penanganan karhutla. Sementara itu, operasi pemadaman darat melibatkan sekitar 10.700 personel gabungan yang terdiri atas unsur BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, TSAK, MPA, BPK swakarsa, serta diperkuat 43 regu pemadam dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Pemadaman diprioritaskan pada sejumlah sektor kritis dan perimeter strategis. Di Kota Palangka Raya, penanganan antara lain dilakukan di kawasan sekitar Bandara Tjilik Riwut, Jalan Adonis Samad, Jalan Bakung Merang, Jalan Yos Sudarso Ujung, Petuk Katimpun, Bukit Tunggal, dan Menteng. Penanganan juga dilakukan di sejumlah kawasan perkebunan serta wilayah yang berada di perbatasan antarkabupaten.
Kepala Pelaksana BPBPK Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, menegaskan bahwa upaya penanganan karhutla terus dilakukan secara optimal dengan mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia. Penanganan melibatkan personel di lapangan, dukungan peralatan, hingga operasi udara untuk mempercepat proses pemadaman. “Pemadaman terus kami lakukan secara terpadu dengan tetap memprioritaskan keselamatan personel. Di beberapa lokasi, kondisi gambut yang cukup dalam membuat penanganan membutuhkan strategi khusus dan waktu lebih panjang, sehingga kami harus memastikan tidak ada lagi titik api maupun bara yang tersisa,” tutur Ahmad Toyib. Ia menjelaskan, karakteristik lahan gambut menjadi salah satu tantangan dalam proses pemadaman karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan. Oleh karena itu, setelah api berhasil dipadamkan, petugas tetap melakukan pendinginan dan pembasahan secara menyeluruh untuk memastikan tidak terdapat bara yang berpotensi kembali memicu kebakaran.
Berdasarkan Laporan Harian Posko Krisis Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah per 8 September 2026, luasan lahan yang berhasil dipadamkan tersebar di beberapa wilayah, yakni Kota Palangka Raya seluas 4,59 hektare, Kabupaten Kotawaringin Timur 10,697 hektare, Kabupaten Pulang Pisau 2,30 hektare, Kabupaten Kapuas 2,15 hektare, dan Kabupaten Barito Selatan 0,25 hektare. Dengan demikian, total luasan lahan yang berhasil dipadamkan mencapai 19,987 hektare. Sementara itu, Kabupaten Katingan, Sukamara, Barito Timur, Murung Raya, Barito Utara, Lamandau, Seruyan, Kotawaringin Barat, dan Gunung Mas tidak mencatatkan luasan pemadaman secara spesifik dalam laporan harian tersebut.
Satgas terus melakukan pemantauan dan penanganan secara berlapis untuk memastikan titik api yang telah dipadamkan tidak kembali menyala. Langkah tersebut menjadi sangat penting, khususnya di kawasan gambut, karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan sehingga membutuhkan proses pembasahan secara menyeluruh. Selain penanganan kebakaran, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah juga memberikan perhatian terhadap dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat dan personel yang terlibat dalam operasi.
Berdasarkan laporan per 8 September 2026, tercatat 18 orang mendapatkan pelayanan kesehatan akibat dampak karhutla dan seluruhnya dinyatakan sembuh atau menjalani rawat jalan. Sebanyak 10 orang mendapatkan penanganan di Puskesmas Baamang, Kabupaten Kotawaringin Timur, dengan keluhan batuk, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan pusing. Sementara itu, 8 orang mendapatkan pelayanan di Puskesmas Jekan Raya, Kota Palangka Raya, dengan keluhan ISPA. Tim Responkes Posko Krisis Karhutla juga terus disiagakan untuk memberikan dukungan medis dan pelayanan pemeriksaan kesehatan, baik kepada petugas yang terlibat dalam operasi penanganan karhutla maupun masyarakat yang terdampak. Sejalan dengan intensifikasi operasi di lapangan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah kembali mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak membuka, membersihkan, maupun mengelola lahan dengan cara membakar.
Pencegahan karhutla membutuhkan peran aktif seluruh elemen masyarakat. Masyarakat dan pihak korporasi diharapkan meningkatkan kewaspadaan serta bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran yang dapat mengancam keselamatan, kesehatan, lingkungan, serta aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Pemerintah bersama seluruh unsur Satgas akan terus memperkuat koordinasi, meningkatkan efektivitas pemadaman, serta melakukan pemantauan secara berkelanjutan guna mengendalikan karhutla dan mencegah meluasnya dampak kebakaran. Upaya penanganan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemadaman titik api, pendinginan, hingga pembasahan lahan. Langkah tersebut terutama diarahkan pada kawasan gambut yang memiliki potensi tinggi mengalami kebakaran berulang, sehingga api dapat benar-benar dikendalikan dan tidak kembali muncul. (Sumber : Diskominfo Kalteng)
- Tinggalkan Komentar
Hai Kalteng