Sungai Sekonyer Berubah Warna, DPRD Minta Aktivitas di TNTP Ditelusuri
yd
Hai Kalteng - Palangka Raya - Kondisi Sungai Sekonyer yang mengalami perubahan warna di sekitar kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) menjadi perhatian DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng). Pemerintah daerah diminta tidak membiarkan persoalan tersebut berlarut karena menyangkut kawasan konservasi sekaligus kehidupan masyarakat dan satwa di dalamnya.
Wakil Ketua I DPRD Kalteng, Riska Agustin, mengatakan perubahan kondisi air sungai perlu segera ditelusuri untuk mengetahui penyebabnya. Apalagi, dugaan aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) turut ditemukan petugas dalam kegiatan Smart Patrol Agustus 2026 di wilayah Resor Pondok Ambung, SPTN Wilayah I Pembuang Hulu, Balai Taman Nasional Tanjung Puting.
(Baca Juga : Tampung Aspirasi Warga, Infrastruktur hingga Bedah Rumah Jadi Perhatian)
Dalam patroli tersebut, petugas menemukan sejumlah barang dan bangunan yang diduga berkaitan dengan aktivitas penambangan. Di antaranya pondok, mesin pompa air, peralatan kerja, bahan bakar minyak (BBM), logistik, serta sebuah menara yang diduga dibangun untuk memperoleh akses sinyal komunikasi.
Riska menilai temuan tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Menurut dia, kawasan TNTP memiliki fungsi penting sebagai wilayah konservasi sehingga setiap aktivitas yang berpotensi mengganggu lingkungan harus ditangani melalui koordinasi lintas instansi.
“Perubahan air Sungai Sekonyer harus kita lihat penyebabnya secara jelas. Kalau memang ada kaitannya dengan kegiatan pertambangan, tentu harus segera ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang,” kata Riska.
Ia mengatakan TNTP bukan sekadar kawasan hutan biasa. Kawasan tersebut menjadi salah satu aset konservasi yang dikenal luas dan memiliki nilai penting bagi Kalimantan Tengah maupun Indonesia.
Karena itu, Riska meminta pemerintah daerah segera mengumpulkan pihak-pihak yang memiliki kewenangan untuk membahas kondisi Sungai Sekonyer. Langkah tersebut diperlukan agar persoalan yang muncul dapat diketahui secara menyeluruh dan tidak berkembang menjadi gangguan terhadap ekosistem.
“Pemerintah daerah perlu segera duduk bersama dengan stakeholder terkait untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi di Sungai Sekonyer,” ujarnya.
Menurut Riska, perhatian juga perlu diberikan terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan tersebut, termasuk warga Desa Sekonyer. Kondisi sungai yang berubah dapat menjadi persoalan apabila berpengaruh terhadap lingkungan dan aktivitas warga.
Di sisi lain, keberadaan satwa di kawasan TNTP juga menjadi alasan pentingnya penanganan dilakukan secara cepat. Gangguan terhadap lingkungan perairan dikhawatirkan dapat berimbas pada keseimbangan ekosistem yang selama ini menjadi habitat berbagai jenis satwa.
“Jangan sampai persoalan ini berdampak lebih jauh, baik terhadap masyarakat yang tinggal di sekitar sungai maupun satwa yang menjadi bagian dari ekosistem Taman Nasional Tanjung Puting,” tutur Riska.
DPRD Kalteng, lanjutnya, mendorong adanya langkah konkret dari pemerintah dan instansi terkait. Klarifikasi terhadap aktivitas yang ditemukan di lapangan dinilai penting untuk memastikan kondisi kawasan sekaligus mencegah kerusakan lingkungan meluas.
“Kami berharap persoalan ini segera ditindaklanjuti dengan melibatkan pihak-pihak yang berkompeten, sehingga kondisi di lapangan bisa diketahui dan penanganannya dapat dilakukan,” pungkasnya.
- Tinggalkan Komentar
Hai Kalteng